Tampilkan postingan dengan label renday on bsam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renday on bsam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 November 2010

Belajar ikhlas agar hidup lebih bergairah

Hidup itu memang tidak mesti selalu adem ayem saja. Sekali waktu ada masa diselingi masalah. Entah itu masalah keluarga, kesehatan, keuangan, pekerjaan, atau masalah hubungan sosial. Satu dua masalah mungkin bisa diselesaikan tanpa mengganggu ritme kehidupan, tapi wajar pula jika ketika banyak masalah datang bersamaan, tubuh sedikit terhuyung agak sempoyongan. Dan belajar ikhlas barangkali menjadi obat mujarab agar hidup kembali bergairah dan tetap bergairah. HOT .. HOT … HOT!
Namun namanya juga belajar memang tidak semudah bicara, dan jelas yang penting adalah prakteknya! Maksudnya mau ikhlas seperti apa tho mas? Ikhlas nrimo sajalah tanpa usaha berbenah?
Ah barangkali maksudnya belajar ikhlas seperti … ikhlas berani jujur mengaku salah, ikhlas berani jujur mengaku keliru, ikhlas berani jujur kurang … bersyukur !.
Dan eh … dengan begitu barangkali dapat pahamlah bahwa, ternyata masalah sebenarnya itu bukan masalah keluarga, bukan masalah kesehatan, bukan masalah keuangan, bukan masalah pekerjaan, bukan juga masalah hubungan sosial, tapi masalah sebenarnya itu ternyata … diri sendiri! … yang kurang bersyukur atas nikmat karunia Ilahi!
Hmm .. Astaghfirullah …!!!

Apakah Kemiskinan itu Takdir ?

Pagi-pagi saya bertemu dengan salah seorang kawan, belum beberapa menit saya duduk dia langsung bicara, “Rif lihat nggak ada tulisan yang menyatakan bahwasanya kemiskinan itu takdir?” Saya pun bertanya “tulisan siapa dan siapa yang bicara”, kata saya. Salah satu calon gubernur ujar.
Dalam hati saya berfikir,sebentar lagi memang hari pencoblosan di Kalsel, maka segala apapun yang bisa di jual maka di jual oleh para kandidat melalui tim suksesnya. Selama ini saya yang biasa berkutat dengan surat kabar atau berita, kadang tidak 100 % mempercayai berita yang ditulis, kecuali saya meliat dan mendengar dari sumbernya.
Namun pembicaraan saya dan kawan saya di pagi hari ini, membuat saya mereview debat kandidat cagubcawagub kalsel yang ditayangkan beberapa lalu, dan memang ada salah satu cagub dalam debat kandidat  yang menyatakan bahwasanya “kemiskinan itu adalah takdir”, pantes saja ada beberapa kawan di wall facebooknya tersinggung dengan peryataan cagub tersebut, dan saya pun juga demikian.
Menurut saya kemiskinan bukanlah takdir, karena kemiskinan merupakan bagian dari kehidupan yang harus dirubah oleh manusia dengan berusaha. ”bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya.” Seseorang yang hanya diam tanpa berusaha maka dia tidak mendapatkan apapun. Bahkan Rasulullah pernah menegur sahabat yang hanya diam di masjid berdoa tanpa berusaha menghidupi keluarganya.renday
Menurut Prof. Dr. Nur Syam, M.Si, Dosen IAIN Sunan Ampel, untuk berusaha , maka dibutuhkan tiga hal utama, yaitu: kemampuan akal, kemampuan fisik dan struktur sosial yang mendukung akses ”keduniawian” tersebut. Melalui kemampuan akal, kecerdasan, pendidikan, keahlian atau profesionalitas, yang didukung oleh kesehatan fisik yang memadai serta didukung oleh struktur sosial yang memberi peluang untuk berusaha, maka dimungkinkan bahwa seseorang akan mampu berkembang dalam mengakses kehidupan duniawi.
Untuk memahami tentang pentingnya struktur yang memberi peluang bagi pengentasan kemiskinan adalah apa yang dilakukan oleh Muhammad Yunus dengan Grameen Bank-nya. Dukungan struktur yang baik terhadap kemungkinan akses ekonomi, ternyata bisa menjadi jalan keluar dari masalah kemiskinan. Dengan pemberian modal yang sesuai dengan kebutuhan mereka, maka mereka bisa mengakses perekonomian yang selama ini tertutup.
Sehingga pada dasarnya kemiskinan itu bukanlah takdir, bahkan selama di perjalanan pagi ini, saya berfikir alangkah sombongnya seseorang yang menyatakan kemiskinan itu takdir, sebagaimana dia juga bisa mengatakan saya menjadi kaya adalah takdir.